Ads (728x90)

Technology

Lifestyle

Sports

Gallery

Random Posts

Business

Popular Posts

About US

Advertisements

pp tahfidzannur@ymail.com 01:29 A+ A- Print Email

Rintihan Perawan Tua
Oleh; Ikfina Chabbana*
            Sore ini kupegangi buku catatanku yang bergambar bunga tulip kuning yang sedang mekar. Buku catatanku ini berisi impian, angan-angan, bunga-bunga mawar, dan hati yang melayang di sebuah taman yang asri penuh dengan kidung asmara, aneka kembang indah, kuda-kuda berwarna putih nan elok. Tetapi buku catatan kali ini aku tulis di atas dinding berbatuan hati yang pilu. Ketika aku mencium aroma harum perkawinan, darah pun mengucur deras dengan mendidih oleh panasnya rasa kerinduan, sehingga menimbulkan luka yang sangat perih.
            Aku menginginkan kebahagiaan. Tapi aku tak sanggup menggapainya karena aku masih tetap melajang. Bapakku melarangku pergi dari rumah. Sementara ibuku hanya bisa menangis sambil berkata “Dulu ketika aku masih seusiamu, aku digelandang oleh mereka sehingga akhirnya bapakmu bisa bertemu denganku, yang penting selesaikan dulu studimu”.
            Mendengar itu, aku berteriak “Masya Allah! Lebih penting mana, studi ataukah membebaskan putrimu dari kekangan yang sangat menyiksa ini?”.
            Siapa bilang aku tak bisa meneruskan studi setelah menikah nanti? Ilmu memang penting, tetapi itu masalah kedua, karena masalah pertama adalah menikah. Aku tidak habis pikir bagaimana masyarakat bisa menganggap hal itu sebagai aib? Padahal sejatinya, aku ini justru sedang meniti yang halal dan mengikuti sunnah Nabiku Muhammad SAW.
            Lalu bagaimana pandangan mereka jika aku sampai meniti yang haram? Tentu mereka akan membunuhku! Aku hanya bisa memohon kepada Allah agar diberi keteguhan, kesabaran, dan kelapangan. Itu hanyalah sekedar impian kosong. Ya, impian ondah seorang gadis yang masih hidup melajang, tetapi bagiku itu adalah impian yang sangat menyiksa. Sekarang ini, siapa gadis yang hidupnya tidak merasa tersiksa jika merasa menjadi perawan tua yang telah melewati masa-masa mudanya?.
            Perawan tua adalah nestapa bagi setiap wanita yang mengalaminya. Buktinya, perhatikan wajah-wajah murung mereka. Seandaianya masyarakat tergerak, dan memikirkan nasib penderitaan mereka tersebut, tentu di muka bumi ini tidak akan ada wanita-wanita seperti mereka.
Benar, dengan pilu aku katakan terus terang, bahwa orang sepertiku ini adalah laksana seekor singa lapar yang sedang berada di tengah hutan yang penuh dengan aneka ragam makanan. Apa yang harus aku lakukan wahai Tuhanku? Aku tahu, sesungguhnya aku orang yang sedang memegangi seonggok bara yang sangat panas. Betapa orang akan sinis dan kasihan mendengar sebutan perawan tua.
            Berkali-kali aku ingin mengibarkan bendera perkawinan setiap aku diundang menghadiri acara walimah pengantin. Hatiku menjerit pilu setiap kali menyaksikan mempelai wanita dengan cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan pemerah pada sepasang pipinya. Perasaanku serasa sedang diaduk-adukkan dan bergejolak tak menentu setiap melihat seorang wanita yang sedang mengandung si calon buah hati. Dan hatiku terasa berdebar-debar keras setiap memandang anak kecil sedang bermain di depanku dengan lucunya.
            Tetapi yang bisa aku lakukan hanya sekedar menangis seraya membayangkan seandainya aku punya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan-kebahagiaan itu.
Betapapun aku adalah manusia. Sebagai perawan tua, aku masih punya harapan suatu waktu aku akan menikah. Jika sedang duduk di depan meja makan sendirian, aku membayangkan alangkah indah dan bahagianya jika ada lelaki pendamping hidup yang menemaniku. Tetapi itu hanya sekedar hayalan.
Wanita-wanita yang telah bersuami barangkali merasa terganggu oleh pertayaan-pertayaan yang aku ajukan; apakah kamu merasa bahagia? Apakah suamimu benar-benar mencintaimu? Apakah ia masih selalu memberimu hadiah? Apakah...? apakah..?
Aku mendengar kawan-kawanku memanggil istrinya, lalu mengajaknya bercanda, kemudian mereka pergi jalan-jalan berdua ke sebuah taman yang asri. Ketika salah seorang dari mereka memandangku, aku bersikap acuh dan tidak peduli dengan pura-pura menggosok-gosok mata yang sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Padahal sejatinya di dasar hati yang paling dalam aku ingin seperti mereka. Bukankah aku ini juga manusia yang punya impian-impian indah seperti mereka?
Sangat boleh jadi mereka mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.
Sebenarnya aku ingin sekali temanku itu menyapa atau memanggilku, sehingga aku segera menoleh ke arahnya sambil tersenyum seraya menjawab, “Ya, ada apa?” tetapi itu sekedar impian.
Aku mendengar adik perempuanku yang sudah menikah, suatu hari berkata kepadaku, “seandainya aku masih menjadi gadis sepertimu, sebab perkaawinan itu hanyalah tanggung jawab dan beban penderiataan”
Boleh saja ia mengaku tidak bahagia atas perkawinan dengan alasan karena suaminya tidak menyenangkan, atau tidak penuh perhatian dan alasan-alasan lainnya. Tetapi aku yakin dia merasa lega karena sudah ada pendamping di dalam hidupnya.
Sebagai seorang perawan tua sepertiku ini, bagaimanapun juga tetap memimpikan kehadiran seorang suami yang akan memberikan rasa cinta, kasih sayang yang lembut, serta perhatian yang tulus kepadaku. Aku tak peduli kedudukannya, dan aku tak peduli sekalipun dia orang yang miskin. Sebab aku tetap percaya pada Allah SWT. “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya”. Aku juga tak peduli nasab, apakah ia seorang anak kyai ataupun anak seorang petani, yang penting bagiku ia muslim yang taat pada syariat Allah dan bersedia bersama-sama denganku dalam suka dan duka. Jika ia memanggilku, aku akan memenuhi panggilannya dengan segenap jiwa dan ragaku. Sesungguhnya aku hanya ingin mencari keridhaan Allah.
Jangan kau tanyakan kepada orang tuaku, karena aku yakin dalam hati bapakku. Beliau meneladani kebijaksanaan hati akabiru tabi’in Said bin Al-Musayyab yang memilih putrinya dinikahkan dengan seorang pemuda miskin, namun ia taat pada syariat Allah, yaitu Abdullah bin Abi Wada’ah , dari pada menerima pinangan putra mahkota Amirul Mu’minin Abdul Malik bin Marwan. Jika kau tahu yang sebenarnya aku pun hanya seorang anak yang berusaha membantu pekerjaan otot bapakku dalam mencari nafkah, aku sama seperti Layla dan Shafura, putri Nabi Syu’aib As yang menggembala kambing-kambingnya.
Mendekatlah padaku, wahai pendamping hidupku dengan izin Allah, kau akan mendapatkan kebahagiaan rumah tangga bersamaku. Datanglah, jangan kau hiraukan msalah materi. Kita dapati banyak orang-orang miskin yang justru sangat dicintai Allah. Aku bersedia menerima yang sedikit. Kita akan berjuang bersama-sama. Jangan persoalkan dirimu yang tidak mempunyai segalanya, karena aku pasti menerimamu. Yang aku utamakan adalah kebaikan akhlaq, dan hal itu tidak memandang unsur nasab. Pinanglah dan nikahilah aku. Walaupun dengan mas kawin hafalan ayat Al Qur’an, sebab bagiku itu adalah maskawin paling mahal di muka bumi ini. Datanglah, karena aku masih setia menantimu dan mengharapkanmu.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu seorang suami yang shaleh.
*Santri Mahasiswa STIQ An Nur Jurusan Ushuludin
Mukim di PP An Nur Komplek Al Maghfiroh

Post a Comment