Ads (728x90)

Technology

Lifestyle

Sports

Gallery

Random Posts

Business

Popular Posts

About US

Advertisements

pp tahfidzannur@ymail.com 11:11 A+ A- Print Email
oleh. Abdul 'Adzim
Sebenaranyabencana demi bencana yang menimpa manusia, khususnya yang menimpa saudara-saudara kita di tanah air ini, pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Seperti Tsunami jaman Nabi Nuh, hujan batu, lahar panas akibat gunung meletus, tanah langsor. Kejadian-kejadian itu banyak diceritakan oleh Allah melalui al-Qur’an, agar manusia senantiasa merenungi kejadian-kejadian itu. Musibah-musibah yang terjadi sebelumnya disebabkan karena banyak factor, seperti menginkari keberadaan tuhan, dan melampau batas, menginkari nikmat tuhan, dan maksiat merajalela. Agar manusia tahu, Allah menjelaskan dalam sebuah ayat QS. Ali Imran (3:137) Sesungguhnya Telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah[1]; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Ketika menyebutkan Q.S Ali Imran (3:137), Abu Ja’far menyebutkan, bahwa mereka yang terkena musibah, ialah kaum Nabi Luth, Tsamud, Aad (Al-Tabari). Dan, kebenaran al-Qur’an telah dibuktikan oleh para pencinta ilmu arkeologi. Bahwa, berita-berita dalam al-Qur’an dapat dibuktikan. Sebenarnya, pesan al-Qur’an yang tersiarat ialah, agar supaya manusia tidak mengulangi kesalahan-kesalahan kaum terdahulu yang sengaja berbuat kerusakan dimuka bumi, dan berbuat kemaksiatan, sehingga lupa akan tuhan pencipta.
Jika kita klasifikasikan, penyebab bencana yang menimpa nusantara ini karena beberapa factor :
  1. Karena ulah manusia sendiri, sebagaimana penjelasan-Nya, Q.S al-Ruum (30:41.) Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Dalam hal ini, Allah ingin memberikan pelajaran kepada mereka yang selalu membuat kerusakan dimuka bumi ini. Beragam musibah akibat ulah manusia yang serakah, seperti; Lumpur Lapindo, Banjir Wasior, Longsor, serta kebanjiran-kebanjiran lain, karena membuang sampah sembarangan. Semua itu merupakan pelajaran, bahwa yang demikian itu merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain.
  2. Karena perbuatan manusia yang melampui batas. Jika melihat realitas, para pejabatnya juga jarang yang amanah, walaupun tidak dipungkiri, masih ada segelintir dari mereka yang menjaga nilai-nilai luhur dan moral. Akan tetapi, jumlah yang korupsi lebih banyak, padahal mereka tahu, bahwa rakyat semakin melarat. Ratusan juta dibuat stdudy banding, sementara ratusan rakyat kecil menjerit, sekolahan roboh. Tidak sedikit, pejabat yang selingkuh, judi, mabuk-mabukan. Sementara, rakyat kecil juga ikut-ikutan berjudi (togel), selingkuh, mencuri. Yang lebih kentara, perzinaan merajalela, dengan menggunakan kalimat ‘’Pekerja Sek Komersial’’. Jika sudah demikian, bumi semakin panas, karena perbuatan maksiat itu. Wajar, jika gempa sering terjadi, tsunami, udara panas, kekeringan, musim hujan kebanjiran. Walaupun ini bersifat alami, tetapi ada keterkaitan dengan perbuatan manusia yang melanggar norma-noram agama.
Terkait dengan bencana yang bertub-tubi dinegeri ini. Ternyata, di Madinah pernah juga terjadi Gempa Bumi. Waktu itu pada masa pemerintahan Umar Ibn al-Khatab. Ketika gempa terjadi, Umar segera mengatakan kepada para sahabat yang lain, agar segera bertaubat kepada-Nya. Sebab, penyebab gempa itu adalah perbautan maksiat. Bukan, karena lempengan-lempengan bumi, seperti para ilmuan itu. Pendekatan Umar ternyata benar. Setelah diketahui, sumber maksiat. Maka sampai saat in, Madinah tidak pernah tertimpa gemba.
Jadi, gempa bumi, gunung meletus, lumpur lapindi, longsor wasior, dan masih banyak lagi musibah yang terjadi dinegeri ini memang karena ulaha perbuatan manusia, dan juga karena manusia keterlaluan. Sehingga menyebabkan semesta ini tidak bersahabat lagi dengan manusia. Meminjam laginya Ebid, …Mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu berbuat dosa….dosa..dosa..?. Jika dicari jawabannya, sangat sulit, bahkan tidak bisa ketemu. Salah satu jawabanya ialah bertaubat berjama’ah secara nasional. Bukan hanya istigosahah, tetapi membenahi prilaku masing-masing dalam lingkup keluarga, masyarakat, hingga bernegara.
Tuhan tidak pernah bosan, tetapi bumi inilah yang sudah tidak sanggub lagi dihuni oleh orang-orang yang selalu berbuat dosa, maksiat, dan juga berbuat curang, merusak, dan saling mencurigai. Bahkan, manusia bangga dengan perbuatan dosa-dosa, dengan menceritakan kepada orang lain. Dan, ini merupakan kemungkaran yang telah meraja lela di bumi nusantara ini. Di dalam sebuah ayat, Allah Swt menjelaskan seputar keberatan bumi, langit, laut, dan gunung (alam), atas prilaku manusia yang angkuh nan sombong.
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا (الأحزاب (33:72)
Artinya:’’ Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat[2] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
Jika dianalogikan dengan jaman sekarang. Banyak manusia rebutan memegang amanah rakyat, tetapi mereka berlomba-lomba melangarnya, bahkan rebutan, hingga terjadi perkelahinan. Begitu juga perintah tuhan juga tidak perhatikan dengan sebaik-baiknya. Jika alam semesta ini bereaksi seperti ini, itu akibat dari aksi-aski manusia yang tidak betanggung jawab sebagai kholifah di muka bumi ini.
Nabi Saw pernah menceritakan, jika telah terjadi kemaskiatan yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh peringatan lisan atau tulisan. Sementara para agamwan juga mulai sibuk dengan urusan dirinya sendiri. Melihat kemasiatan semakin meraja lela, maka nasehat yang paling tepat ialah bencana. Nabi Saw menganalogikan, seperti perahu tingkat dua. Yang bahwa dihuni oleh orang-orang ahli maksiat, sementara lantai dua dihuni oleh orang-orang ahli ibadah. Tetapi, yang ahli ibadah masa bodoh (cuek) dengan kondisi dibawah. Ketika salah satu dari diantara mereka yang dibawah berulah sehingga perahunya bocor, maka semuanaya akan tenggelam bersama-sama.
Dan, Nabi Saw juga menjelaskan bahwa orang-orang yang di atas tentunya masuk surga. Akan tetapi, mereka tetap ikut tenggelam bersama mereka, karena satu perahu. Begitu juga kondisi negeri ini. Jika tidak ada yang perduli dengan kemungkaran yang meraja lela, maka semuanya akan tenggelam, sebab Indonesia adalah satu negeri, satu bangsa dan satu bahasa. Jadi, sangat penting untuk direnungi bersama. Sekaligus membenahi manajemen penanganan musibah. Agar supaya, dimasa-masa mendatang Indonesia tetap kuat di dalam menghadapi musibah demi musibah yang terjadi. Dan, tidak ada yang salah kecuali saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Suber : Kompas.com


[1] . Yang dimaksud dengan sunnah Allah di sini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul
[2] . yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.

Post a Comment